SUSU SAPI, OGAH, AH…

 

sumber : kompas

Air susu ibu alias ASI adalah nutrisi alami yang terbaik bagi anak. Sayangnya, makin banyak ibu yang memberikan susu botol kepada bayinya karena kesibukan kerja atau merasa ASI kurang memenuhi kebutuhan si kecil. Apalagi para produsen susu formula kian gencar mengiklankan produknya.

Padahal, tidak semua bayi bisa menerima susu yang mengandung protein sapi. Mohamad Raka Pratama (5 bulan) salah satunya. Semula, ia tidak menunjukkan gejala alergi saat diberi minum susu formula yang mengandung protein susu di Rumah Sakit Bersalin Mutiara Bunda, Tangerang. “Sampai dua hari setelah lahir, ASI ibunya belum keluar. Karena nangis terus, Raka dikasih susu formula,” tutur Ny Titin Martini (46), nenek dari Raka.

Beberapa hari kemudian, Raka menderita panas tinggi. Kulitnya kemerahan, terutama di bagian muka, kaki, dan badan. Oleh dokter yang merawat, ia didiagnosis menderita campak, lalu diberi obat antibiotik dan bedak antigatal. Karena ibunya memiliki riwayat menderita asma, dokter mulai mencurigai adanya gejala alergi susu sapi sehingga disarankan agar berganti susu formula.

“Obat antibiotiknya diminum, tetapi susu belum diganti karena menghabiskan susu yang dari rumah sakit. Ternyata, Raka malah mencret, sehari bisa sampai 15 kali. Pada tubuhnya keluar bercak-bercak merah seperti gabakan,” ungkap Ny Titin. Bahkan, tinja yang keluar berlendir dan bercampur dengan sedikit darah.

Seusai diperiksa di laboratorium, ternyata kadar alergi susu sapinya sangat tinggi. Setelah diganti dengan produk susu formula hipoalergenik yang ekstensif, ruam merah pada kulit berangsur berkurang, tetapi tetap mencret. Oleh dokter spesialis alergi anak, Raka dianjurkan mengonsumsi susu formula berbahan dasar susu kedelai (soya).

“Setelah minum susu formula yang mengandung kedelai, diarenya cepat sembuh. Bercak kemerahan pada kulit Raka juga hilang. Sampai sekarang, cucu saya tidak lagi diare, bahkan tumbuh sehat dan sudah makan bubur susu yang tidak mengandung susu sapi,” kata Ny Titin, warga Ciledug, Tangerang.

Lain lagi cerita tentang Cut Fabiayya Habibie (empat bulan dua pekan). Anak pasangan Rifsia dan Habibie ini justru menderita alergi susu sapi dari makanan yang dikonsumsi ibunya. Saat berusia lebih dari satu bulan, bagian pipinya ruam merah. Ia juga mencret berulang kali dalam sehari. Padahal, begitu pulang dari rumah sakit, ia mendapatkan ASI secara eksklusif dari ibunya.

Setelah diperiksa dokter, ia ternyata menderita alergi susu sapi. Bakat alergi itu berasal dari kedua orangtuanya yang menderita asma. Penyebabnya, selama menyusui, ibunya mengonsumsi susu untuk ibu menyusui dan makan beberapa jenis makanan yang berpotensi menimbulkan alergi. “Sekarang saya pantang makan ikan laut, kacang tanah, dan telur. Susunya juga diganti susu kedelai,” tutur Rifsia, warga Cempaka Putih, Jakarta Pusat, ini.

Alergi pada anak

Angka kejadian penyakit alergi pada anak belakangan ini meningkat seiring dengan perubahan pola hidup masyarakat modern, pencemaran lingkungan, dan zat-zat yang ada dalam makanan. “Alergi adalah reaksi kekebalan yang menyimpang dari normal dan menimbulkan gejala yang merugikan tubuh,” kata Ketua Kelompok Kerja Alergi Imunologi Ikatan Dokter Anak Indonesia Dr Zakiudin Munasir SpA (K).

Dalam tubuh terdapat lima jenis antibodi atau imunoglobulin, yaitu imunoglobulin G, A, M, E, dan D. Imunoglobulin E adalah antibodi yang banyak berperan pada reaksi alergi. Dalam tubuh penderita alergi, ada imunoglobulin E berkadar tinggi, terutama imunoglobulin E yang spesifik terhadap zat-zat tertentu pemicu reaksi alergi, seperti debu, bulu binatang, serbuk bunga atau makanan tertentu, seperti telur, susu, dan ikan laut.

Di Amerika Serikat dilaporkan angka kejadian alergi pada anak prasekolah 10 hingga 12 persen, dan pada usia sekolah 8,5 sampai 12,2 persen. Di Indonesia, angka kejadian alergi pada anak Indonesia belum banyak diteliti. Dari penelitian di Kelurahan Utan Kayu, Jakarta Pusat, ternyata 25,5 persen anak menderita alergi, antara lain gejala alergi pada hidung dan kulit.

Penyakit alergi hanya mengenai anak dengan bakat alergi yang disebut atopik. Artinya, ada bakat atopik atau alergi yang diturunkan salah satu atau kedua orangtuanya, terutama ibu. “Sekarang banyak ibu bekerja sehingga tidak bisa menyusui secara penuh. Jadi, bayi lalu minum susu formula. Pada anak yang berbakat alergi, susu formula berbahan dasar susu sapi bisa jadi pencetus terjadinya alergi,” ujarnya.

Sekitar 20 persen anak usia satu tahun pernah mengalami reaksi terhadap makanan yang diberikan, termasuk yang disebabkan reaksi alergi. Susu sapi merupakan protein asing utama bagi bayi pada bulan-bulan awal kehidupan yang dapat menimbulkan reaksi alergi pertama. “Karena fungsi ususnya belum sempurna, protein susu sapi tidak bisa dipecah dengan sempurna,” kata Zakiudin.

Protein susu sapi dapat menimbulkan alergi yang menetap sampai akhir masa kanak-kanak, baik dalam bentuk susu murni atau bentuk lain. Anak yang alergi susu sapi tidak selalu alergi terhadap daging sapi. “Gejala khas pada anak yang alergi susu sapi adalah diare dengan tinja berdarah. Kalau protein susu sapi sudah masuk ke dalam tubuh, kulit bisa kemerahan,” paparnya.

Spesialis anak dari Klinik Alergi Rumah Sakit Bunda Jakarta, dr Widodo Judarwanto, dalam artikelnya menyatakan, sistem kekebalan tubuh bayi akan melawan protein yang terdapat dalam susu sapi sehingga gejala-gejala reaksi alergi pun akan muncul. Terdapat lebih dari 40 jenis protein berbeda dalam susu sapi yang berpotensi menyebabkan sensitivitas, antara lain lactoglobulin dan casein.

Gangguan akibat alergi susu formula bisa timbul karena reaksi cepat atau timbulnya gejala kurang dari empat jam. Pada reaksi lambat atau gejala baru timbul setelah lebih dari empat jam. Tanda dan gejala alergi susu hampir sama dengan alergi makanan. Gangguan itu dapat mengganggu semua organ tubuh, terutama pencernaan, kulit, dan saluran napas.

Banyak penelitian terakhir mengungkapkan, gangguan saluran cerna kronis dengan berbagai mekanisme imunopatofisiologis dan imunopatobiologis dapat mengakibatkan gangguan neurofungsional otak. Gangguan fungsi otak itu dapat memengaruhi gangguan perilaku, seperti kurang konsentrasi, mudah emosi, gangguan tidur, keterlambatan bicara, gangguan konsentrasi, hingga memperberat gejala hiperaktif dan autis.

Penanganan sejak dini

Pencegahan timbulnya gejala alergi pada anak yang lahir dari keluarga yang mempunyai bakat alergi sebaiknya dimulai saat anak dalam kandungan. Ibu hamil yang punya riwayat alergi dalam keluarganya tidak perlu diet pencegahan terhadap makanan yang menimbulkan alergi untuk mencegah terjadinya kekurangan gizi dalam kandungan. Yang penting adalah menghindari asap rokok. “Jika tidak segera ditangani, alergi bisa merusak jaringan tubuh dan menimbulkan alergi lain,” tutur Zakiudin.

Pemberian ASI eksklusif dapat mencegah terjadinya alergi di kemudian hari. Tindakan pencegahan terhadap makanan yang menimbulkan alergi perlu dilakukan oleh ibu menyusui dan dilanjutkan sampai bayi berusia satu hingga dua tahun. Selain menghindari makanan yang hiperalergenik, perlu juga dilakukan menghindari alergen yang berasal dari lingkungan, misalnya debu dan asap rokok.

Jika curiga adanya ketidakcocokan susu formula, orangtua sebaiknya tidak terlalu cepat memvonis susu sapi adalah penyebabnya. Widodo mengatakan, gangguan bisa timbul karena kandungan yang terdapat dalam susu formula, seperti laktosa, gluten, zat warna, aroma rasa, komposisi lemak, kandungan DHA, minyak jagung, dan minyak kelapa sawit. Dalam pemberian ASI, diet yang dikonsumsi ibu juga dapat mengakibatkan gangguan alergi.

Untuk memastikan apakah alergi susu sapi atau tidak, anak bisa menjalani pemeriksaan laboratorium. Jika perlu, konsultasikan kepada dokter spesialis alergi anak, gastroenterologi anak, atau metabolik dan endokrinologi anak. Yang penting, orangtua perlu hati-hati dalam memilih susu formula dan mencermati gangguan organ tubuh yang terjadi terus-menerus dalam jangka panjang, seperti batuk, sesak, diare, dan sulit buang air besar.

“Bila anak tidak mendapat ASI, dapat diberikan susu formula yang hipoalergenik,” kata Zakiudin.

Jika sudah terjadi alergi terhadap susu sapi, anak tidak boleh mendapat formula susu sapi biasa, tetapi harus diberi susu formula yang khusus untuk alergi dalam bentuk susu hipoalergenik yang ekstensif atau susu formula kedelai. Anak yang mendapat formula susu kedelai tetap akan mengalami tumbuh kembang yang baik, tetapi 30 hingga 40 persen dari anak yang alergi susu sapi juga alergi susu kedelai. Pada saat anak memerlukan makanan tambahan pendamping ASI, misalnya bubur susu, sebaiknya juga diberikan bubur yang tidak mengandung susu sapi, tetapi misalnya dengan memakai susu sapi yang hipoalergenik atau susu kedelai. “Alergi susu sapi akan membaik jika usia anak bertambah. Penderita biasanya bisa menerima susu sapi setelah berusia di atas satu atau dua tahun. Karena itu, setiap enam bulan sekali, anak bisa mencoba minum susu sapi,” tutur Zakiudin.

www.susuanakku.com

Provided By: SUSU FORMULA ONLINE Supported By: GRoW UP CLINIC JAKARTA Yudhasmara Foundation. “Children are the world’s most valuable resource and its best hope for the future”. We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.GRoW UP CLINIC I Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat 10210, phone (021) 5703646 – 085102466102 – 085100466103 GRoW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430, Phone (021) 29614252 – 08131592-2012 0 0813159202013 email : judarwanto@gmail.com http://growupclinic.com Facebook http://www.facebook.com/GrowUpClinic Twitter: @growupclinic Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967 Clinical – Editor in Chief : Dr Widodo Judarwanto, Pediatrician email : judarwanto@gmail.com Mobile Phone O8567805533 PIN BBM 76211048 Komunikasi dan Konsultasi online : twitter @widojudarwanto facebook dr Widodo Judarwanto, pediatrician Komunikasi dan Konsultasi Online Alergi Anak : Allergy Clinic Online Komunikasi dan Konsultasi Online Sulit makan dan Gangguan Berat Badan : Picky Eaters Clinic Komunikasi Profesional Pediatric: Indonesia Pediatrician Online We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.
“GRoW UP CLINIC” Jakarta Focus and Interest on: *** Allergy Clinic Online *** Picky Eaters and Growup Clinic For Children, Teen and Adult (Klinik Khusus Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan)*** Children Foot Clinic *** Physical Medicine and Rehabilitation Clinic *** Oral Motor Disorders and Speech Clinic *** Children Sleep Clinic *** Pain Management Clinic Jakarta *** Autism Clinic *** Children Behaviour Clinic *** Motoric & Sensory Processing Disorders Clinic *** NICU – Premature Follow up Clinic *** Lactation and Breastfeeding Clinic *** Swimming Spa Baby & Medicine Massage Therapy For Baby, Children and Teen ***
Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2015, Susu Formula Online, Information Education Network. All rights reserved

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s