ANTISIPASI KENAIKKAN HARGA, PRIORITASKAN GIZI

Widodo Judarwanto
PICKY EATERS CLINIC (KLINIK KESULITAN MAKAN)
CHILDREN ALLERGY CLINIC
Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat
telp : (021) 70081995 – 5703646
Di penghujung tahun ini tampaknya diawali dengan kondisi yang cukup mencemaskan bagi ekonomi keluarga. Bagaimana tidak, harga kedelai, beras, minyak goreng atau bahan bakar minyak termasuk minyak tanah dan gas secara hampir bersamaan naik secara menggila. Fenomena yang memilukan ini secara pasti diikuti dengan kenaikkan harga barang lainnya khususnya pangan. Secara tidak langsung harga pangan yang kadang tidak terjangkau akan berpengaruh pada status gizi dan kualitas kesehatan masyarakat khususnya anak-anak. Langkah awal yang harus dilakukan adalah langkah kreatif, cepat dan terukur dengan memprioritaskan kebutuhan gizi keluarga. Di antaranya adalah benahi ekonomi keluarga dan ciptakan manajemen gizi keluarga yang cermat dan benar. Terukur artinya perencanaan tersebut tertulis di dalam bentuk formal tulisan dengan parameter jumlah yang cermat dan detil.
PEMBENAHAN EKONOMI KELUARGA
Dalam situasi ekonomi seperti ini tampaknya pembenahan ekonomi keluarga merupakan antisipasi yang harus dengan cepat dilakukan. Hal ideal adalah meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga. Tetapi tampaknya hal ini amat sulit dilakukan dalam keadaan seperti sekarang. Meski sangat sulit, mungkin saja dengan kreatifitas dan usaha yang keras akan mudah berbuah hasil. Masalah utama yang realistis dapat dilakukan adalah perencanaan jangka pendek dan jangka panjang sesuai prioritas dan kemampuan. Prioritas utama adalah mengutamakan kebutuhan primer khususnya pangan dibandingkan kebutuhan lainnya yang pada umumnya bersifat konsumtif dan pemborosan.
Kebutuhan di luar pangan mungkin saja termasuk yang primer seperti kebutuhan kesehatan, kebutuhan papan dan kebutuhan lainnya mungkin tergantung kemampuan setiap kelompok keluarga. Kebutuhan primer satu keluarga dengan keluarga yang lain akan berbeda. Bila lebih cermat secara detail kebutuhan pangan juga bisa digolongkan kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder. Kebutuhan sekunder inilah yang harus lebih selektif untuk dihilangkan paling tidak diminimalkan. Pada kelompok keluarga pada umumnya kebutuhan sekunder pangan adalah makan di restoran, makan cemilan, makan berlebihan dan berbagai hal lainnya. Sedangkan pada usia anak konsumsi soft drink, permen, snack ringan atau jajan di sekolah yang tidak bergizi dengan nilai ekonomis yang tidak murah dan lebih dominan merugikan kesehatan adalah kebutuhan sekunder yang harus dihindari.
Kebutuhan gizi sekunder inilah yang harus dicatat dan dianggap sebagai pemborosan ekonomi keluarga. Kadangkala masyarakat hanya berfokus pada harga pangan, tetapi tidak menyadari keborosan pangan yang terjadi di dalam keluarga terus terjadi. Pemborosan lain adalah sering terjadi makanan yang tersaji berlebihan tidak sesuai dengan kapasitas porsi keluarga. Secara detail perencanaan kebutuhan primer, sekunder dan kebutuhan konsumtif pangan lainnya adalah dilakukan melalui manajemen gizi keluarga.
Proporsi pembiayaan untuk kebutuhan pangan bagi keluarga dengan tingkat ekonomi rata-rata yang ideal mungkin adalah sekitar 40-50% dibandingkan semua pengeluaran. Semakin banyak penerimaan ekonomi keluarga mungkin saja proporsi itu dapat semakin kecil, tetapi semakin rendah penerimaan keluarga mungkin proporsi itu semakin besar. Misalnya bisa saja keluarga dengan penerimaan ekonomi yang rendah, mungkin menghabiskan 80% lebih penerimaaanya untuk kebutuhan pangan. Sebaliknya bagi keluarga dengan tingkat ekonomi sangat tinggi mungkin hanya mengeluarkan kurang dari 20%. Apapun tingkat ekonomi tiap keluarga dalam keadaan seperti ini pasti proporsi itu akan berpengaruh.
MANAJEMEN GIZI KELUARGA
Manajemen gizi keluarga adalah suatu upaya mengatur perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pemenuhan kebutuhan pangan di dalam keluarga disesuaikan dengan kondisi ekonomi seperti sekarang ini dengan tidak merubah kualitas gizi keluarga. Dalam perencanaan tersebut harus di dasarkan pada jumlah, jenis dan frekuensi asupan gizi yang sesuai dan mengacu pada gizi lengkap dan seimbang. Gizi seimbang artinya makanan harus mengandung karbohidrat, protein dan lemak yang seimbang. Lengkap artinya mengandung semua jenis makanan yang bergizi seperti nasi, lauk pauk, sayur, buah dan susu. Jumlah, jenis dan frekuensi juga harus mengacu kebutuhan normal tiap usia dan anggota anggota keluarga. Jumlah yang disajikan jangan sampai kurang atau berlebih sehingga tersisa sampai harus dibuang ke tempat sampah.
Dalam pemenuhan kebutuhan tersebut dapat disesuaikan dengan tingkat ekonomi keluarga dan kondisi ekonomi pasar yang semakin tinggi. Menciptakan makanan bergizi tidak harus selalu identik dengan biaya tinggi. Setiap biaya tinggi dalam pemenuhan jenisnya selalu ada pengganti yang lebih ekonomis tetapi tidak mengurangi nilai gizi. Bila harga minyak cukup tinggi maka proporsi bahan gorengan dapat diganti dengan rebusan yang lebih sehat. Demikian pula dengan pemilihan buah, sayur dan lauk pauk. Banyak bahan makanan yang bergizi tinggi dengan nilai ekonomi rendah. Kelengkapan jenis makanan sangat penting harus diperhatikan. Jangan sampai membeli beras mahal tetapi mengorbankan pemenuhan kebutuhan sayur. Mungkin harus menunda membeli minyak goreng, dibandingkan harus menunda pembelian buah.
Dalam keadaan seperti sekarang yang menjadi masalah adalah pemenuhan kebutuhan susu bagi anak-anak. Pada anak usia di bawah 2 tahun tampaknya susu masih harus diberikan. Pemilihan susu terbaik bagi anak adalah susu yang cocok bagi anak atau tidak mengakibatkan reaksi pada tubuh seperti diare, sulit berak, muntah atau batuk dan sebagainya. Secara umum susu formula yang terregistrasi di balai POM pasti kandungan gizinya adalah sama karena harus sesuai dengan Recommendation Dietary Allowance (RDA) atau rekomendasi pemenuhan kebutuhan gizi bayi dan anak. Jadi tidak benar, bahwa susu satu lebih menggemukkan daripada susu lainnya. Yang membedakan susu murah dan mahal mungkin hanyalah biaya produksi atau kandungan tambahan yang ada pada susu formula. Susu terbaik bukan yang mahal atau yang mengandung tambahan gizi seperti AA, DHA, dan banyak kandungan zat lainnya yang ternyata manfaatnya belum terbukti secara klinis. Semahal apapun susu tersebut bila tidak cocok dan mengganggu fungsi tubuh harus dihindari karena menggganggu pertumbuhan anak. Sebaliknya meskipun susu tersebut tidak mahal selama cocok dan tidak mengganggu fungsi tubuh maka pasti dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak. Dalam keadaan ekonomi keluarga yang sangat prihatin mungkin saja pada anak di atas 1-2 tahun sumber gizi susu tersebut dapat diganti sumber gizi lainnya dalam lauk dan pauk.
Evaluasi dalam perencanaan dan pelaksanaan manajemen gizi keluarga harus terus dilakukan. Bila pelaksanaannya mengganggu kualitas rasa mungkin harus lebih kreatif dalam menciptakan variasi menu makanan. Kreatifitas lain juga dapat dilakukan, misalnya bila dengan beras murah mengganggu kualitas rasa dapat dicampur dengan beras yang lebih mahal. Evaluasi lain yang dapat dilakukan adalah melihat “outcome” status gizi keluarga. Pada bayi dan anak dalam jangka pendek dengan menilai kenaikkan berat badan dan tinggi badan.
Dalam menyikapi situasi ekonomi seperti sekarang ini kreatifitas, kecermatan dan pengetahuan masyarakat tentang pemenuhan gizi keluarga harus dioptimalkan tanpa harus mengorbankan kesehatan keluarga. Manajemen gizi keluarga yang baik mungkin salah satu langkah yang efektif untuk mengantisipasi keadaan tersebut.

Supported  by
CLINIC FOR CHILDREN

Yudhasmara Foundation

JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Indonesia 102010

phone : 62(021) 70081995 – 5703646

http://childrenclinic.wordpress.com/

 

 

 

Clinical and Editor in Chief :

DR WIDODO JUDARWANTO

email : judarwanto@gmail.com

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © 2009, Clinic For Children Information Education Network. All rights reserved.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s