KONTROVERSI PENAMBAHAN AA DAN DHA PADA MAKANAN BAYI

Dr Widodo Judarwanto Pediatrician

PENDAHULUAN

Saat ini sebagian besar susu formula atau makanan bayi teradapat kecenderungan selalu ditambah bahan DHA (docosahexaenoic) dan AA (arachidonic acid). Promosi makanan bayi tersebut selalu didominasi dengan dengan penambahan formula yang dianggap sebagai formula kecerdasan. Orang tua pasti akan terhanyut dengan promosi ini, sehingga makanan bayi tanpa bahan tersebut pasti kalah bersaing di pasaran padahal harganya relatif lebih mahal. Yang lebih tragis promosi ini, kadang menenggelamkan kehebatan manfaat ASI. Benarkah AA dan DHA berpengaruh terhadap kecerdasan ? Amankah pemberian AA dan DHA secara jangka panjang pada bayi dan anak ?

British Nutrition Foundation, ESPGAN (European Society for Pediatric Gastroenterology and Nutrition), WHO (World Health Organization) dan FAO (Food Agriculture Organization) merekomendasikan penambahan DHA dan AA hanya perlu untuk susu formula bayi prematur. Secara teoritis dan bukti klinis penambahan tersebut hanya bermanfaat untuk bayi prematur. Sedangkan Canadian Joint Working Group and US committee dan American Academy for Pediatric belum merekomendasikan pemberiannya pada susu formula bayi, karena keterbatasan pengalaman klinik dan saat ini sedang dilakukan penelitian untuk jangka panjang. Terdapat beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa bermanfaat tetapi banyak penelitian lain menunjukkan tidak terbukti manfaatnya untuk kecerdasan bayi.

LATAR BELAKANG PEMBERIAN AA DAN DHA

Kualitas manusia sangat ditentukan oleh pertumbuhan dan perkembangannya sejak dini. Pemenuhan gizi yang baik dan benar merupakan modal dasar agar anak dapat mengembangkan potensi genetiknya secara optimal. Zat gizi yang diberikan harus tersedia secara tepat baik kualitas maupun kuantitasnya. Mulai dari protein dengan asam aminonya baik yang esensiel maupun non-esensiel, sumber kalori, berupa karbohidrat ataupun lemak, vitamin, dan mineral.

Seperempat dari bagian padat otak manusia terdiri dari fosfolipid yang kondisinya sangat tergantung dengan kondisi sirkulasi setempat Pertumbuhan otak dengan bagian fosfolipidnya terjadi sebagian besar pada masa prenatal dan bulan-bulan pertama kehidupan, menunjukkan bahwa nutrisi lemak pada masa kehamilan dan masa postnatal dini sangat penting pada pertumbuhan otak. Pertumbuhan otak sangat bergantung pada terbentuknya “long-chain polyunsaturated fatty acids (PUFAs)” menjadi bagian dari fosfolipids yang terdapat pada bagian cortex otak. Nampaknya sampai saat ini tidak diketemukan adanya hambatan sawar otak ( “blood brain barrier”) pada proses transportasi dari asam lemak ke otak.

Pada penelitian ditemukan bahwa status DHA pada bayi sehat cukup bulan berhubungan dengan fungsi saraf alur penglihatannya. Hal ini berdasarkan pada penelitian profil asam lemak pada eritrosit dan hubungannya dengan maturitas alur penglihatan dari VEP (Visual Evoked Potential). VEP adalah tes ketajaman penglihatan yang digunakan untuk mengevaluasi keutuhan saraf pada alur retina ke cortex visual primer dan kemampuan bayi untuk melihat dan memberi respon motorik jika dirangsang secara visual

DHA dan AA adalah komponen terbesar dari long-chain polyunsaturated fatty acids (LC-PUFA), merupakan bahan yang sangat penting bagi organ susunan saraf pusat. DHA penting untuk pembentukan jaringan saraf dan sinap, sedangkan AA berperan sebagai neurotransmitter ebagai suatu bentuk asam lemak yang essensiel LC-PUFA harus ditambahkan pada makanan. Oleh karenanya status PUFA pada janin sangat tergantung pada konsumsi PUFA dari ibunya. Pada kenyataannya selama kehamilan ibu sering tidak mendapat penambahan konsumsi dari PUFA sehingga status LC-PUFA dalam plasmanya turun, yang ternyata sering baru dapat kembali normal setelah 32 minggu pasca kelahiran.

Rendahnya status kadar PUFA dalam plasma pada kehamilan, menyebabkan pula rendahnya kadar PUFA pada bayi yang baru lahir, terbukti dengan rendahnya kadar asam lemak pada tali pusat bayi, terutama pada bayi kembar. Hal ini tentunya dapat merugikan proses tumbuh kembang anak terutama pertumbuhan otaknya. Keadaan ini dapat diatasi dengan memberikan LC-PUFA pada ibu yang sedang hamil, serta pada bayi yang baru lahir.

Pada bayi prematur kadar LC-PUFA-nya jauh lebih rendah dari bayi aterm, ternyata kadarnya berbanding searah dengan berat badan serta tinggi badan dan lingkaran kepala saat mereka dilahirkan. Dikatakan pemberian LC-PUFA (DHA) semasa kehamilan dapat memperbaiki prognosa bayi prematur.

Pada kehamilan bayi aterm pemberian LC-PUFA + µ- asam linolenik pada ibunya yang sedang hamil, juga berpengaruh positip pada pertumbuhan janin, namun kalau hanya diberikan asam linolenik maka pertumbuhan lingkaran kepalanya berbanding terbalik, hal ini diperkirakan karena dengan hanya pemberian asam linolenik justeru akan menghambat pembentukan DHA yang akhirnya dapat menghambat pertumbuhan otak.

Kadar LC-PUFA pada air susu ibu cukup tinggi, tetapi tidak demikian halnya dengan susu formula (PASI) yang pada umumnya kadarnya sangat rendah, bahkan sering tidak ada. Dari penelitian ternyata bahwa kadar DHA dan AA pada bayi yang diberi ASI jauh lebih tinggi secara bermakna dibandingkan dengan bayi yang mendapatkan susu formula (PASI). Dengan adanya kenyataan bahwa DHA dan AA merupakan komponen penting dari asam lemak di otak, maka pemberian DHA dan AA pada formula terutama bagi bayi prematur akan sangat bermanfaat dalam pertumbuhan otaknya. Status PUFA dapat dilihat pada gambaran komposisi dari fosfolipid-PUFA dari plasma ataupun jaringan.Ternyata status asam lemak esensiel menurun selama kehamilan, pada umumnya meningkat kembali secara sangat pelan setelah kelahiran dan baru mendekati normal setelah minggu ke 26.

Asam lemak esensiel sebenarnya terdiri dari asam linoleat (AL) atau “linoleic acid” (LA), asam linolenat (ALN) atau ”a-linolenic acid” (ALA) serta asam arachidonic atau ”arachidonic acid” (AA), asam lemak ini tidak bisa dibuat oleh tubuh baik dari asam lemak lain maupun dari karbohidrat ataupun asam amino. Asam arachidonic dapat dibuat dari asam linolenat (seri n-6), karenanya yang dianggap sebagai asam lemak esensiel hanyalah asam lemak lenolenat dan asam lemak linotenat. Kedua asam lemak esensiel ini tidak dapat saling berubah dari yang satu menjadi yang lain serta berbaeda baik baik dalam metabolisme maupun fungsinya, bahkan secara fisiologik keduanya mempunyai fungsi yang berlawanan.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa pemberian LC-PUFA sebagai suplemen dapat meningkatkan kemampuan visual dan perkembangan sistem saraf terutama pada bayi prematur. Suplementasi DHA dan AA pada formula bayi prematur penting, harus dengan rasio antara 4:1 – 10:1. Proses pembuatan DHA maupun AA difasilitasi oleh enzim desaturase dan elongase. Aktifitas kedua enzim ini masih sangat kurang pada bayi prematur bahkan pada bayi aterm sampai usia 4-6 bulan. Karenanya penambahan DHA dan AA pada bayi prematur lebih relevan diberikan, dengan dosis yang mengacu pada kandungan asam lemak dalam ASI.

METABOLISME ASAM LEMAK
Bahan utama lemak terdapat dalam 3 bentuk, diantaranya adalah gliserida, terutama trigliserida yang merupakan 95-98% dari lemak makanan, fosfolipid dan sterol
Fosfolipid dan sterol hanya merupakan bagian kecil dari lemak tetapi merupakan komponen membran sel dan selaput myelin. Lemak sebagai bagian makanan manusia mempunyai fungsi penting sebagai: bahan bakar metabolisme, merupakan bahan pokok membran sel dan sebagai mediator aktivitas biologis antar sel.

Asam lemak yang dapat disentesa dalam tubuh disebut sebagai asam lemak non-esensiel seperti SFAs, MUFAs atau Omega-7, Omega-9. Sedangkan asam lemak yang harus didapatkan dari luar karena tidak dapat disentesa oleh tubuh disebut sebagai asam lemak esensiel. Asam lemak esensial adalah PUFAs: Omega-3, Omega-6).Asam lemak Omega-7: Asam palmitoleat, Omega-9: Asam oleat, Omega-6: asam linoleat dan Omega-3: asam linolenat, eikosapentanoat. Fungsi asam lemak esensiel adalah fungsi struktural, barier air di kulit, pada jaringan saraf sebagai bahan penghantar rangsangan saraf, pada membran sel sebagai sinyal transduksi
Status PUFA dapat dilihat pada gambaran komposisi dari fosfolipid-PUFA dari plasma ataupun jaringan.Ternyata status asam lemak esensiel menurun selama kehamilan, pada umumnya meningkat kembali secara sangat pelan setelah kelahiran dan baru mendekati normal setelah minggu ke 26.

Asam lemak esensiel sebenarnya terdiri dari asam linoleat (AL) atau “linoleic acid” (LA), asam linolenat (ALN) atau ”a-linolenic acid” (ALA) serta asam arachidonic atau ”arachidonic acid” (AA), asam lemak ini tidak bisa dibuat oleh tubuh baik dari asam lemak lain maupun dari karbohidrat ataupun asam amino. Asam arachidonic dapat dibuat dari asam linolenat (seri n-6), karenanya yang dianggap sebagai asam lemak esensiel hanyalah asam lemak lenolenat dan asam lemak lenoleat.

Kandungan n-6 dan n-3 memegang peranan yang sangat penting pada membran sel serta sebagai precursor dari eicosanoid yang sangat kuat sebagai bahan aktif Ternyata disamping jumlah dari asam lemak esensiel yang dikonsumsi jumlahnya harus cukup, juga rasio antara n-6 : n-3 harus optimal sebesar antara 5:1 sampai 10:1. Rasio yang terlalu tinggi justeru akan menekan keberadaan n-3 pada organ-organ vital. Karena mereka dibentu secara kompetitif dengan memakai enzim yang sama.
Sebenarnya DHA dan AA bisa diperoleh lewat asam-asam lemak esensial, dari nabati dan hewani yang dikomsumsi ibu sejak ia hamil. Bila ibu pada saat hamil rajin mengkomsumsi lemak esensial ini, pembentukan DHA dan AA pada bayi akan terbentuk dengan sendirinya karena asam-asam lemak esensial ini merupakan perintis DHA dan AA. DHA banyak terdapat pada ikan terutama ikan salmon, tuna, dan meckerel, sedangkan daging dan telur mengandung sedikit DHA. Aktifitas enzim desaturase maupun elongase dipengaruhi oleh asal lemak yang terdapat pada makanan. Minyak ikan yang mengandung banyak DHA akan menghambat aktifitas enzim tersebut sehingga dapat menghambat pembentukan AA. Sebaliknya minyak jagung atau safflower memacu aktifitas enzim desaturase sehingga meningkatkan pembentukan AA.

Pertemuan pakar dari Life Sciences Research Organization merekomendasikan kebutuhan maximum DHA adalah antara 0.35% and 0.6% dari total fatty acid. Tidak ada batasan minimun yang direkomendasikan. Pada umumnya suplementasi LC-PUFA pada formula bayi berpedoman pada beberapa hal. Kebutuhan asam lemak esensiel pada bayi prematur 4-5% dari total kalori atau sampai 12% masih dianggap aman. Nilai ini sesuai dengan 0,6-0,8 g/kg/hari dengan batas tertinggi 1,5 g/kg/hari. AL harus 0,5-0,7 g/kg/hari, 40-60 mg/kg/hari dalam bentuk AA. n-3 sebesar 70-150 mg/kg/hari, 35-75 mg/kg/hari dalam bentuk DHA
Jumlah AL tidak boleh melebihi 12% dari total enersi. Rasio n-6:n-3 harus dijaga antara 4:1 – 10:1M. Kebutuhan asupan asam lemak yang adekuat pada bayi adalah LA jumlah sebesar 10,00, LNA sebanyak 1,50, AA sebanyak 0,50, DHA sebanyak 0,35, EPA kurang dari 0,10.

KONTROVERSI PENELITIAN
Manfaat pemberian AA dan DHA pada bayi dan anak dianggap masih sangat controversial. Karena sejauh ini tidak bukti klinis yang meyakinkan pendapat itu. Banyak penelitian pendahuluan yang mengklaim bahwa pemberian zat AA dan DHA meningkatkan perkembangan kecerdasan dan kemampuan visual anak. Tetapi ternyata banyak penelitian lainnya juga melaporkan pemberian AA dan DHA tidak bermanfaat. Seperti yang dilakukan David dkk, ternyata pemberian AA dan DHA tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada Bayley Mental Scale, Bayley Motor Scale, Vocabulary Comprehension and Production Scale.

Sebuah penelitian menunjukkan adanya peningkatan fungsi penglihatan pada bayi yang mendapatkan susu formula dengan suplementasi AA/DHA dibandingkan yang mendapatkan susu formula biasa, dengan melihat indikator perilaku dan elektrofisiologi mata pada bayi berumur 2 – 4 bulan.

Beberapa pakar menilai beberapa penelitian suplementasi AA/DHA tersebut terdapat kelemahan sehingga tampaknya tidak universal dapat digunakan sebagai acuan. Diantaranya adalah perbedaan alat yang digunakan untuk mengukur tingkat kecerdasan yaitu Bayley Mental Development Index (MDI) dan the Psychomotor Developmental Index (PDI). Belum lagi pengaruh sosioekonomi responden yang mempengaruhi uji statistik. Kadar AA, DHA, dan asam lemak lain semacam ALA dan LA juga bervariasi antar penelitian. Sampai perbedaan genetik dan lingkungan di berbagai belahan dunia tempat penelitian dilakukan seperti Amerika Utara, Australia, dan Eropa. Juga terkadang jumlah sampel terlalu sedikit, umur bayi yang terlalu dini untuk dilakukan pengujian, dan jangka waktu penelitian yang seharusnya cukup panjang, sehingga dapat dilihat dampaknya hingga usia remaja dan dewasa.
Tetapi banyak pakar berpendapat bahwa ensim yang berfungsi untuk proses biosintesa asam-asam lemak esensial menjadi DHA dan AA sudah tersedia di sistem syaraf pusat dan hati di janin dan bayi. Teori inilah yang mematahkan pendapat bahwa AA dan DHA perlu diberikan pada anak dan bayi. Banyak penelitian juga mengungkapkan bahwa penambahan DHA dan AA pada susu formula, ternyata tidak terbukti meningkatkan kemampuan penglihatan dan sistem saraf bayi. Hasil penelitian Ross Paediatric Lipid Study di Amerika Serikat pada tahun 1997 yang menunjukkan tidak adanya perbedaan pertumbuhan dan fungsi penglihatan pada bayi yang diberi DHA dan AA di 12 bulan pertama. American Council on Science and Health juga menyimpulkan bahwa tidak ada cukup bukti-bukti ilmiah untuk mendukung penambahan DHA dan AA pada formula untuk bayi yang lahir normal.

Meskipun demikian Food and Drug Administration (FDA) memberikan ijin kepada Abbott Laboratories dan Mead Johnson Nutritionals untuk mengedarkan susu formula dengan suplementasi AA/DHA pada tahun 2002. Harganya sekitar 20% persen lebih mahal dibandingkan dengan susu formula tanpa suplementasi, dan ini pun memberikan keuntungan kepada dua perusahaan tersebut untuk membiayai penelitian mengenai AA/DHA.

WASPADAI PENAMBAHAN AA DAN DHA

Pada bayi cukup bulan atau anak besar pemberian suplemen DHA dan AA perlu diteliti lebih jauh mengingat adanya kemungkinan efek samping yang belum terdeteksi dan teruji. Pemberian lemak yang berlebihan dapat menyebabkan kegemukan, serta penyakit jantung bahkan dapat menimbulkan keganasan; dapat meningkatkan kadar kolesterol, dan LDL yang dapat memacu terjadinya aterosklerosis dan penyakit jantung koroner. Hal ini sangat tergantung pada jumlah enersi yang berasal dari lemak, komposisi dari asam lemaknya, komposisi dari lipoprotein, diet serat yang dikonsumsi, antioksidan, aktifitas, serta derajad kesehatannya. Pada anak yang tidak aktif konsumsi lemak tidak boleh melebihi dari 30% kebutuhan enersi. .

Penelitian yang dilakukan penulis terhadap 256 bayi dengan riwayat alergi yang melakukan rawat jalan di Children Allergy Center Rumah Sakit Bunda Jakarta didapatkan 34 (13%) bayi mengalami reaksi simpang terhadap AA dan DHA. Setelah dilakukan eliminasi provokasi susu formula AA/DHA dan susu tanpa AA/DHA dengan jenis yang sama. Gejala yang ditimbulkan karena pengaruh reaksi simpang tersebut antara lain adalah dermatitis, batuk dan gangguan saluran cerna berupa muntah, diare atau konstipasi. Reaksi simpang makanan yang berlangsung lama bukan hanya mengganggu pertumbuhan tetapi juga mempengaruhi perkembangan dan perilaku anak seperti hiperaktif, gangguan konsentrasi, gangguan tidur, gangguan emosi dan gangguan belajar dan gangguan perilaku lainnya.
Pemberian DHA pada formula bayi lanjutan ataupun pada makanannya perlu dipertimbangkan lebih cermat. Pada bayi yang aterm ataupun anak besar sudah dapat mensintesa DHA maupun AA dari LC-PUFA sesuai dengan kebutuhannya. Sedangkan pemberian DHA yang berlebihan dapat menekan proses pembentukan AA, serta dapat menekan aktifitas ensim siklooksigenase yang memfasilitasi pembentukan prostaglandin PGH2 dan PGH3 dari AA, sehingga dapat menghambat pembentukan prostaglandin berikut tromboksan dan leukotrin, dapat menyebabkan terhambatnya respons terhadap proses keradangan khususnya pada pelepasan interleukin-1 dan TNF, memanjangnya masa perdarahan, menurunnya renin yang turut dalam pengontrolan fungsi ginjal. Overdosis DHA pada manusia, sejauh ini baru terlihat dialami orang Eskimo yang banyak mengkonsumsi ikan laut. Gejalanya berupa perdarahan, mirip flek-flek berwarna kebiruan di kulit.
Penelitian yang dilakukan penulis terhadap 256 bayi dengan riwayat alergi yang melakukan rawat jalan di Children Allergy Center Rumah Sakit Bunda Jakarta didapatkan 34 (13%) bayi mengalami reaksi simpang terhadap AA dan DHA. Setelah dilakukan eliminasi provokasi susu formula AA/DHA dan susu tanpa AA/DHA dengan jenis yang sama. Gejala yang ditimbulkan karena pengaruh reaksi simpang tersebut antara lain adalah dermatitis, batuk dan gangguan saluran cerna berupa muntah, diare atau konstipasi. Reaksi simpang makanan yang berlangsung lama bukan hanya mengganggu pertumbuhan tetapi juga mempengaruhi perkembangan dan perilaku anak seperti hiperaktif, gangguan konsentrasi, gangguan tidur, gangguan emosi dan gangguan belajar dan gangguan perilaku lainnya.

Pemberian DHA pada formula bayi lanjutan ataupun pada makanannya perlu dipertimbangkan lebih cermat. Pada bayi yang aterm ataupun anak besar sudah dapat mensintesa DHA maupun AA dari LC-PUFA sesuai dengan kebutuhannya. Sedangkan pemberian DHA yang berlebihan dapat menekan proses pembentukan AA, serta dapat menekan aktifitas ensim siklooksigenase yang memfasilitasi pembentukan prostaglandin PGH2 dan PGH3 dari AA, sehingga dapat menghambat pembentukan prostaglandin berikut tromboksan dan leukotrin, dapat menyebabkan terhambatnya respons terhadap proses keradangan khususnya pada pelepasan interleukin-1 dan TNF, memanjangnya masa perdarahan, menurunnya renin yang turut dalam pengontrolan fungsi ginjal.

KESIMPULAN

  • Bayi cukup bulan ataupun bayi yang besar yang sudah mampu mensintesa DHA maupun AA sendiri dari AL dan ALN. Sehingga pemberian AA dan DHA tidaklah terlalu perlu, bahkan mungkin perlu diwaspadai efek samping yang belum terdeteksi untuk di kemudian hari.
  • Penambahan asam lemak cukup dengan memberikan AL maupun ALN yang sesuai dengan kebutuhan dan rasio rasio yang optimal.
    Pada bayi prematur kemampuan mensintesa LC-PUFA dari asam lemak esensiel masih sangat rendah sehingga penambahan AA/DHA perlu ditambahkan dalam makanannya.

    DAFTAR PUSTAKA· Carlson, S.E. Functional effects of increasing omega-3 fatty acid intake. J. Pediatr 131(2):173-175,1997
    · Carlson, S.E. Lessons learned from randomizing infants to marine oil-supplemented formulas in nutrition trials. J Pediatr 125:S33-38, 199
    · Carlson SE, Werkman SH, Peeples JM, Cooke RJ, Tolley EA (1993) Arachidonic acid status correlates with first year growth in preterm infants. Prog.Natl.Acad.Sci.USA.90, 1073-1077
    · Clandinin MT, Aerde IV, Field CJ, Parrott A (1996) Prteterm infant formuls: Effect of increasing levels 20:4(6) and 22:6(3) on the fatty acid composition of plasma and erythrocyte phospholipids J Pediatr Gastroenterol Ntutr.22, 432-435.
    · Crawford, M.A. et al. Are deficits of arachadonic and docosahexanoic acids responsible for the neural and vascular complications of preterm babies? Am J Clin Nutr 66(suppl)1023S-1041S,1997
    · Crawford MA (2000) Placental delivery of arachidonic and docosahexaenoic acids: implications for the lipid nutrition of preterm infants. Am J.Clin.Nutr. 275-284.
    · David T. Scott, Jeri S. Janowsky, Robin E. Carroll, James A. Taylor, Nancy Auestad, Michael B. Montalto. Formula Supplementation With Long-chain Polyunsaturated Fatty Acids: Are There Developmental Benefits? PEDIATRICS Vol. 102 No. 5 November 1998, p. e59
    · Dutta-Roy AK (2000) Transport mechanisms for long-chain polyunsaturated fatty acids in yhe human placenta. Am.J.Clin.Nutr.71, 315s-322s.
    · Farquharson J, Cocburn F, Patrick WA, Jamieson EC, Logan RW (1992) Infant cerebral cortex phospholipid fatty – acid composition and diet. Lancet.340, 810-813.
    · Farquharson, J. et al. Effect of diet on the fatty acid composistion of the major phospholipids of infant cerebral cortex. Arch Dis Child 72(3):198-203,1995.
    · Gibson RA, Makrides M (2000) n-3 Polyunsaturated requirements of term infants. Am.J.Clin.Nutr. 251s-255s
    · Hidayat B.Penambahan AA dan DHA pada makanan bayi : peran dan manfaatnya
    · Hornstra G (2000) Essential fatty acids in mothers and their neonates.Am.J.Clin.Nutr.71, 1262s-1269s.
    · Innis SM, Adamkin DH, Hall RT, et al. Docosahexaenoic acid and arachidonic acid enhance growth with no adverse effects in preterm infants fed formula. J Pediatr.2002; 140 :547 –554
    · Judarwanto W. Adverse reaction of essential fatty acids in infant with allergy manifestation (unpublished).
    · Kurlak LO, Stephenson TJ (1999) Plausibble explanation for effects of long chain polyunsaturated fatty acids (LC-PUFA) on neonates. Arch Dis Child.30, f148-f154.
    · Lands, W.E.M. Biochemistry and physiology of n-3 fatty acids. FASEB 6:2530-2536,1992.
    · Makrides, M. et al. Are long-chain polyunsaturated fatty acids essential nutrients in infancy? Lancet 345:1463-1468,1995
    · Nancy Auestad, David T. Scott, Jeri S. Janowsky, Cynthia Jacobsen et all. Visual, Cognitive, and Language Assessments at 39 Months: A Follow-up Study of Children Fed Formulas Containing Long-Chain Polyunsaturated Fatty Acids to 1 Year of Age. PEDIATRICS Vol. 112 No. 3 September 2003, pp. e177-e183.
    · Uauy R, Mize CE, Castillo-Duran C (2000) Fat intake during childhood: metabolic responses and effects on growth. Am.J.Clin.Nutr.72, 1354s-1360s
    · WHO. (1993) Fats and oils in human nutrition. Report of a joint expert consultation Rome 19-26 October.
    · Uauy, R. et al. Role of essential fatty acids in the function of the developing nervous system. Lipids 31:S167-S176,1996
    · Vanderhoof J, Gross S, Hegyi T. A multicenter long-term safety and efficacy trial of preterm formula supplemented with long-chain polyunsaturated fatty acids. J Pediatr Gastroenterol Nutr.2000; 31 :121 –127
    · Wilson, A.C. et al. Relation of infant diet to childhood health: Seven year follow up of cohort of children in Dundee infant feeding study. BMJ 316:21-23,1998.
    · WHO. (1993) Fats and oils in human nutrition. Report of a joint expert consultation Rome 19-26 October.

.

www.susuanakku.com

Provided By: SUSU FORMULA ONLINE Supported By: GRoW UP CLINIC JAKARTA Yudhasmara Foundation. “Children are the world’s most valuable resource and its best hope for the future”. We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.GRoW UP CLINIC I Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat 10210, phone (021) 5703646 – 085102466102 – 085100466103 GRoW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430, Phone (021) 29614252 – 08131592-2012 0 0813159202013 email : judarwanto@gmail.com http://growupclinic.com Facebook http://www.facebook.com/GrowUpClinic Twitter: @growupclinic Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967 Clinical – Editor in Chief : Dr Widodo Judarwanto, Pediatrician email : judarwanto@gmail.com Mobile Phone O8567805533 PIN BBM 76211048 Komunikasi dan Konsultasi online : twitter @widojudarwanto facebook dr Widodo Judarwanto, pediatrician Komunikasi dan Konsultasi Online Alergi Anak : Allergy Clinic Online Komunikasi dan Konsultasi Online Sulit makan dan Gangguan Berat Badan : Picky Eaters Clinic Komunikasi Profesional Pediatric: Indonesia Pediatrician Online We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.
“GRoW UP CLINIC” Jakarta Focus and Interest on: *** Allergy Clinic Online *** Picky Eaters and Growup Clinic For Children, Teen and Adult (Klinik Khusus Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan)*** Children Foot Clinic *** Physical Medicine and Rehabilitation Clinic *** Oral Motor Disorders and Speech Clinic *** Children Sleep Clinic *** Pain Management Clinic Jakarta *** Autism Clinic *** Children Behaviour Clinic *** Motoric & Sensory Processing Disorders Clinic *** NICU – Premature Follow up Clinic *** Lactation and Breastfeeding Clinic *** Swimming Spa Baby & Medicine Massage Therapy For Baby, Children and Teen ***
Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2015, Susu Formula Online, Information Education Network. All rights reserved

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s