“Pemakaian MSG Pada Anak”

 

 

Dr Widodo Judarwanto pediatrician

 

ILUSTRASI KASUS

  • MSG adalah bahan aditif makanan yang selama ini dianggap sebagai momok bagi masyarakat. Bila mendengar tidak ada MSG di dalam makanan maka orang akan merasa aman untuk menyantapnya, tetapi bila ada kandungan sedikit saja MSG orang sudah berpikir 1001 macam terhadap resiko yang ditimbulkannya terutama terhadap anak-anak.
  • Menurut beberapa penelitian sebenarnya MSG sangat aman dalam dosis tertentu yang direkomendasikan. Sangat berbeda yang selama ini dianut masyarakat bahwa MSG adalah setan yang bergentayangan di dalam makanan.
  • PADAHAL BILA DICERMATI SELAMA INI PENGARUH KARENA MSG YANG SERING DIANGGAP ITU, SULIT DIBEDAKAN DENGAN REAKSI ALERGI MAKANAN

Monosodium glutamat atau MSG adalah garam natrium (sodium) dari asam glutamat (salah satu asam amino non-esensial penyusun protein). MSG diperdagangkan sebagai kristal halus berwarna putih, dan penampakannya mirip gula pasir atau garam dapur. MSG tidak mempunyai rasa, tetapi mempunyai fungsi sebagai penegas citarasa (flavor enhancer) makanan. Sebagian besar peneliti meyakini bahwa MSG menstimulir reseptor glutamat yang terdapat pada lidah untuk menegaskan citarasa daging (meat-like flavor). Akan tetapi yang berperan dalam hal itu adalah glutamat dalam bentuk bebas (asam glutamat), bukan sebagai garam natrium (MSG). Reaksinya dengan ion Na+ yang memiliki elektronegativitas tinggi, menjadikan MSG garam yang ikatannya kuat, tidak terurai selama proses pemasakan, dan aroma serta citarasanya sudah mulai terdeteksi pada konsentrasi 0,03%. Buruknya penambahan MSG pada makanan saat ini masih diyakini banyak orang. Sebagian besar orang cenderung sangat percaya bahwa MSG itu buruk dan ingin hidup MSG-free sebisa mungkin.

“MSG ini dapat menembus plasenta pada saat kehamilan, menembus jaringan penyaring antara darah dan otak (blood brain barrier), menyusup ke lima organ circumventricular,”. Pelindung darah otak yang terkontaminasi, dapat mengakibatkan kelainan hati, trauma, hipertensi, stres, demam tinggi dan proses penuaan. Penelitian FDA (Food and Drug Administration) tahun 1970 mendapati MSG dapat memicu reaksi-reaksi seperti, gatal dan bintik-bintik merah pada kulit, mual dan muntah, sakit kepala migren (berat pada sebelah kepala), asma, gangguan hati, ketidakmampuan belajar serta depresi.
FASEB (the Federation of American Societies for Experimental Biology) menyampaikan laporan tentang aman tidaknya penggunaan MSG dalam makanan. Dalam laporannya, membuktikan bahwa makanan yang mengandung MSG, minimum 5 gram, dapat memicu penyakit asma.

Sementara itu, Truth in Labeling Campaign – sebuah lembaga untuk kampanye labelisasi AS –membuktikan bahwa reaksi MSG lebih berisiko pada bayi dan anak-anak.Badan Pengawas Obat dan Makanan AS menyatakan batas aman penggunaan MSG adalah 2 gram. Namun demikian banyak food scientist yang setuju bahwa monosodium glutamate sendiri tidak berbahaya pada kesehatan. Secara lebih luas, MSG memegang peranan penting dalam industri makanan. Sebagai flavor enhancement, MSG banyak menghemat production cost para menyedia makanan (baik makanan jadi maupun bahan makanan.) Semakin banyak MSG yang ditambahkan, semakin sedikit “actual food” yang harus digunakan oleh produser untuk membuat produksinya menjadi lezat.

Berbagai lembaga yang sangat kompeten baik di Amerika Serikat maupun di Eropa dan bahkan badan-badan dunia seperti FAO dan WHO, mengklasifikasikan MSG sebagai bahan tambahan pangan yang aman untuk dikonsumsi.

Joint Expert Committee on Food Additives (JECFA) of the UN-FAO dan WHO, menempatkan MSG dalam kategori ingredient pangan yang paling aman (the safest category of food ingredients). Laporan dari European Communiities (EC) Scientific Committee for Foods, pada tahun 1991, memperkuat pernyataan tentang keamanan MSG dan mengklasifikasikan “acceptable daily intake” (ADI) MSG sebagai “not specified”. Istilah “not specified” untuk ADI menunjukkan bahwa MSG sebagai ingredient pangan benar-benar aman bagi tubuh (the most favorable designation for a food ingredient).
EC Committee menyebutkan bahwa ternyata bayi juga dapat memetabolisasi glutamat seefisien seperti halnya orang dewasa. Laporan dari the Council on Scientific Affairs of the American Medical Association pada tahun 1992, menyebutkan bahwa glutamat dalam bentuk bebas atau dalam bentuk garam atau MSG tidak menunjukkan sesuatu yang membahayakan kesehatan secara bermakna.

Laporan dari the Federation of American Societies for Experimental Biology (FASEB) pada tahun 1995, antara lain menyebutkan bahwa : (1) sejumlah orang tertentu (an unknown percentage of the population) dapat bereaksi terhadap MSG dan menimbulkan gejala seperti sakit kepala, mual-mual, jantung berdebar dan lain-lain. Akan tetapi gejala tersebut terutama terjadi pada orang yang mengkonsumsi MSG dalam jumlah banyak (3 g atau lebih) dengan kondisi perut kosong (tanpa disertai makanan lain). Untuk diketahui, secara normal satu sajian makanan diberi tambahan MSG kurang dari 0,5 g; dan (2) MSG tidak terbukti berkontribusi pada timbulnya penyakit Alzheimer’s dan penyakit kronis lainnya.

Kesepakatan JECFA yang meniadakan ambang batas aman penggunaan MSG mengundang polemik. Dosis maksimal yang ditetapkan WHO 120 mg/kgBB/hr sudah terlalu tinggi, apalagi kalau dosis itu ditiadakan. Begitu pula nilai ambang batas aman tersebut masih dipakai untuk pembandingan dengan penggunaan keseharian.

Bagi orang yang alergi atau tidak tahan MSG, maka makanan yang dikonsumsi mengandung MSG dapat menyebabkan penyakit “Restoran Cina” (Chines Restaurant Syndrome). Gejala penyakit ini adalah 20-30 menit setelah makan makanan yang dibubuhi MSG yang berlebihan, maka akan timbul rasa mual, haus, pegal-pegal pada tengkuk, sakit dada dan sesak napas.

Tetapi bila dicermati reaksi alergi makanan dalam kandungan masakan Cina juga memberikan tanda dan gejala yang sama. Seringkali sulit membedakan antara reaksi MSG dan reaksi alergi makanan. Karena bagi orang tertentu pengidap alergi makanan reaksi simpang makanan karena sea food, ikan teri, terasi, kerupuk udang reaksinya juga berupa mual, sakit kepala, nyeri perut, pilek dan kadangkala muntah. Karena ternyata keluhan itu hanya dialami oleh segelintir manusia. Sayangnya selama ini banyak orang tidak merasa bahwa dirinya adalah pengidap alergi makanan.

Monosodium glutamat atau MSG adalah garam natrium (sodium) dari asam glutamat (salah satu asam amino non-esensial penyusun protein). MSG diperdagangkan sebagai kristal halus berwarna putih, dan penampakannya mirip gula pasir atau garam dapur. MSG tidak mempunyai rasa, tetapi mempunyai fungsi sebagai penegas citarasa (flavor enhancer) makanan. Sebagian besar peneliti meyakini bahwa MSG menstimulir reseptor glutamat yang terdapat pada lidah untuk menegaskan citarasa daging (meat-like flavor). Akan tetapi yang berperan dalam hal itu adalah glutamat dalam bentuk bebas (asam glutamat), bukan sebagai garam natrium (MSG). Reaksinya dengan ion Na+ yang memiliki elektronegativitas tinggi, menjadikan MSG garam yang ikatannya kuat, tidak terurai selama proses pemasakan, dan aroma serta citarasanya sudah mulai terdeteksi pada konsentrasi 0,03%.

Buruknya penambahan MSG pada makanan saat ini masih diyakini banyak orang. Sebagian besar orang cenderung sangat percaya bahwa MSG itu buruk dan ingin hidup MSG-free sebisa mungkin.
“MSG ini dapat menembus plasenta pada saat kehamilan, menembus jaringan penyaring antara darah dan otak (blood brain barrier), menyusup ke lima organ circumventricular,”. Pelindung darah otak yang terkontaminasi, dapat mengakibatkan kelainan hati, trauma, hipertensi, stres, demam tinggi dan proses penuaan. Penelitian FDA (Food and Drug Administration) tahun 1970 mendapati MSG dapat memicu reaksi-reaksi seperti, gatal dan bintik-bintik merah pada kulit, mual dan muntah, sakit kepala migren (berat pada sebelah kepala), asma, gangguan hati, ketidakmampuan belajar serta depresi.
FASEB (the Federation of American Societies for Experimental Biology) menyampaikan laporan tentang aman tidaknya penggunaan MSG dalam makanan. Dalam laporannya, membuktikan bahwa makanan yang mengandung MSG, minimum 5 gram, dapat memicu penyakit asma.

Sementara itu, Truth in Labeling Campaign – sebuah lembaga untuk kampanye labelisasi AS –membuktikan bahwa reaksi MSG lebih berisiko pada bayi dan anak-anak.Badan Pengawas Obat dan Makanan AS menyatakan batas aman penggunaan MSG adalah 2 gram. Namun demikian banyak food scientist yang setuju bahwa monosodium glutamate sendiri tidak berbahaya pada kesehatan. Secara lebih luas, MSG memegang peranan penting dalam industri makanan. Sebagai flavor enhancement, MSG banyak menghemat production cost para menyedia makanan (baik makanan jadi maupun bahan makanan.) Semakin banyak MSG yang ditambahkan, semakin sedikit “actual food” yang harus digunakan oleh produser untuk membuat produksinya menjadi lezat.
Berbagai lembaga yang sangat kompeten baik di Amerika Serikat maupun di Eropa dan bahkan badan-badan dunia seperti FAO dan WHO, mengklasifikasikan MSG sebagai bahan tambahan pangan yang aman untuk dikonsumsi.
Joint Expert Committee on Food Additives (JECFA) of the UN-FAO dan WHO, menempatkan MSG dalam kategori ingredient pangan yang paling aman (the safest category of food ingredients). Laporan dari European Communiities (EC) Scientific Committee for Foods, pada tahun 1991, memperkuat pernyataan tentang keamanan MSG dan mengklasifikasikan “acceptable daily intake” (ADI) MSG sebagai “not specified”. Istilah “not specified” untuk ADI menunjukkan bahwa MSG sebagai ingredient pangan benar-benar aman bagi tubuh (the most favorable designation for a food ingredient).
EC Committee menyebutkan bahwa ternyata bayi juga dapat memetabolisasi glutamat seefisien seperti halnya orang dewasa. Laporan dari the Council on Scientific Affairs of the American Medical Association pada tahun 1992, menyebutkan bahwa glutamat dalam bentuk bebas atau dalam bentuk garam atau MSG tidak menunjukkan sesuatu yang membahayakan kesehatan secara bermakna.
Laporan dari the Federation of American Societies for Experimental Biology (FASEB) pada tahun 1995, antara lain menyebutkan bahwa : (1) sejumlah orang tertentu (an unknown percentage of the population) dapat bereaksi terhadap MSG dan menimbulkan gejala seperti sakit kepala, mual-mual, jantung berdebar dan lain-lain. Akan tetapi gejala tersebut terutama terjadi pada orang yang mengkonsumsi MSG dalam jumlah banyak (3 g atau lebih) dengan kondisi perut kosong (tanpa disertai makanan lain). Untuk diketahui, secara normal satu sajian makanan diberi tambahan MSG kurang dari 0,5 g; dan (2) MSG tidak terbukti berkontribusi pada timbulnya penyakit Alzheimer’s dan penyakit kronis lainnya.
Kesepakatan JECFA yang meniadakan ambang batas aman penggunaan MSG mengundang polemik. Dosis maksimal yang ditetapkan WHO 120 mg/kgBB/hr sudah terlalu tinggi, apalagi kalau dosis itu ditiadakan. Begitu pula nilai ambang batas aman tersebut masih dipakai untuk pembandingan dengan penggunaan keseharian.

Bagi orang yang alergi atau tidak tahan MSG, maka makanan yang dikonsumsi mengandung MSG dianggap dapat menyebabkan penyakit “Restoran Cina” (Chines Restaurant Syndrome). Gejala penyakit ini adalah 20-30 menit setelah makan makanan yang dibubuhi MSG yang berlebihan, maka akan timbul rasa mual, haus, pegal-pegal pada tengkuk, sakit dada dan sesak napas. Padahal selama ini belum ada penelitian yang sahih yang menunjang pendapat umum tersebut.

Tetapi bila dicermati reaksi alergi makanan dalam kandungan masakan Cina juga memberikan tanda dan gejala yang sama. Seringkali sulit membedakan antara reaksi MSG dan reaksi alergi makanan. Karena bagi orang tertentu pengidap alergi makanan reaksi simpang makanan karena sea food, ikan teri, terasi, kerupuk udang reaksinya juga berupa mual, sakit kepala, nyeri perut, pilek dan kadangkala muntah. Karena ternyata keluhan itu hanya dialami oleh segelintir manusia. Sayangnya selama ini banyak orang tidak merasa bahwa dirinya adalah pengidap alergi makanan. Hal ini wajar karena di Inggris terdapat penelitian bahwa ternyata 15% penderita alergi di Inggris baru mengetahui setelah usia 25 tahun pindah berganti-ganti dokter ternyata gejala yang dialaminya itu selama ini adalah gejala alergi. Bayangkan di negara yang super maju tehnologi kedokterannya saja seperti itu, apalagi di Indonesia. Bila tidak semua bereaksi dengan MSG maka sangat mungkin bahwa Chines Restaurant Syndrome adalah reaksi alergi makanan.

TANDA DAN GEJALA ALERGI MAKANAN PADA ORANG DEWASA YANG BEBERAPA DI ANTARANYA MIRIP CHINESSE RESTAURANT SYNDROME

Sistem Pernapasan
Batuk (terutama malam hari dan pagi hari) lama dan berulang, BRONKITIS KRONIS, sesak(astma). Sering berdehem (batuk kecil)

Sistem Telinga Hidung Tenggorok
Sering nyeri tenggorokkan, sering berdahak, pilek, bersin, hidung buntu, sinusitis, polip, “hidung bengkok”. Telinga gatal, nyeri atau berair.

Sistem Pembuluh Darah dan jantung
Palpitasi (berdebar-debar), flushing (muka ke merahan), nyeri dada HEART ATTACK LIKE SYMPTOMS, colaps (jatuh), pingsan, tekanan darah rendah, arhitmia (denyut jantung tidak teratur)

Sistem Pencernaan
Nyeri perut, sering diare, kembung, muntah, sulit berak (tidak berak setiap hari), sering buang angin , sariawan, mulut berbau,

Kulit
Sering gatal, dermatitis, urticaria, bengkak di bibir, lebam biru kehitaman, bekas hitam seperti digigit nyamuk, kulit timbul bercak putih (seperti panu), pernah alergi obat.

Sistem Saluran Kemih dan Genitalia
Sering kencing terutama malam hari, nyeri kencing, vagina: keluar cairan, bengkak, kemerahan, nyeri, sakit bila berhubungan, KEPUTIHAN

Sistem Susunan Saraf Pusat
Sering sakit kepala, migrain, short lost memory (sering lupa hanya sesaat ), floating (melayang), Gangguan Tidur (sulit tidur / insomnia, sering mimpi buruk (terutama bertemu binatang (ular, yang seram2), malam sering terbangun), susah konsentrasi, claustrophobia (takut ketinggian), depresi, sering merasa terasing atau sendiri
Perilaku : impulsif (bicara berlebihan), sering terburu-buru,sering marah, mood swings

Sistem Hormonal
Kulit berminyak (atas leher), kulit kering (bawah leher), jerawat, endometriosis, Premenstrual Syndrome, kemampuan sex menurun, Chronic Fatique Symptom (sering lemas seperti tak bertenaga), Hipoglycemia like syndrome (sering lemas tak bergairah/seperti kurang gula darah),
Gampang marah, Mood swing, sering terasa kesepian, rambut rontok

Jaringan otot dan tulang
Nyeri tulang, nyeri otot, nyeri sendi, nyeri dada (heart attack like synptoms/gejala seperti sakit jantung), nyeri pinggang belakang, otot leher/bahu kaku, gerakan jalan terbatas/seperti pincang.

Gigi dan Mulut
Sering nyeri gigi dan gusi terutama gigi belakang (tanpa gigi berlubang/sering dikira karena gigi geraham yang tumbuhnya miring), sering sariawan luka dimulut..

Mata
Sering mata gatal (sering menggosok mata), sering bintilan di mata, timbul warna hitam di bawah kelopak mata.

Hal ini wajar karena di Inggris terdapat penelitian bahwa ternyata 15% penderita alergi di Inggris baru mengetahui setelah usia 25 tahun pindah berganti-ganti dokter ternyata gejala yang dialaminya itu selama ini adalah gejala alergi. Bayangkan di negara yang super maju tehnologi kedokterannya saja seperti itu, apalagi di Indonesia. Bila tidak semua bereaksi dengan MSG maka sangat mungkin bahwa Chines Restaurant Syndrome adalah reaksi alergi makanan.

 

Selain itu sebagai flavor enhancement, MSG banyak menghemat ongkos produksi para menyedia makanan (baik makanan jadi maupun bahan makanan.) Semakin banyak MSg yang ditambahkan, semakin sedikit “actual food” yang harus digunakan oleh produser untuk membuat produksinya menjadi lezat. Contohnya, untuk membuat soto betawi yang rasanya ”mak nyus”, mungkin diperlukan 1,5 kg daging sapi untuk 4 gelas kaldu. Dengan MSG, 1,5 kg daging sapi bisa membuat 2 atau 3 kali lipat kaldu sapi. Ini berpengaruh besar terhadap gizi makanan masyarakat. Ternyata bukan sekedar aman tidaknya MSG digunakan, tetapi juga berpotensi mengurangi nilai gizi makanan itu sendiri.



END POINTS

  • SEJAUH INI DALAM DOSIS TERTENTU, DALAM BERBAGAI PENELITIAN TERNYATA MSG MASIH BISA DIKATAKAN AMAN, TIDAK SEPERTI FOBIA YANG BANYAK DITAKUTKAN MASYARAKAT
  • MESKIPUN DEMIKIAN LEBIH BIJAKSANA BILA KITA LEBIH MEWASPADAI AKIBAT DARI KELEBIHAN PENGGUNAAN YANG DITIMBULKANNYA
  • SELAMA INI BILA TIDAK CERMAT EFEK SAMPING YANG DIAKIBATKAN OLEH MSG SULIT DIBEDAKAN DENGAN REAKSI SIMPANG DARI BAHAN MAKANAN LAIN YANG TERKANDUNG DALAM SAJIAN MAKANAN TERSEBUT, ATAU SERING DISEBUT INTOLERANSI ATAU ALERGI MAKANAN.

 

Supported By:

GRoW UP CLINIC JAKARTA Yudhasmara Foundation GRoW UP CLINIC I Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat 10210, phone (021) 5703646 – 44466102 GRoW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430, Phone (021) 44466103 – 97730777
“GRoW UP CLINIC” Jakarta Focus and Interest on: *** Allergy Clinic Online *** Picky Eaters and Growup Clinic For Children, Teen and Adult (Klinik Khusus Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan)*** Children Foot Clinic *** Physical Medicine and Rehabilitation Clinic *** Oral Motor Disorders and Speech Clinic *** Children Sleep Clinic *** Pain Management Clinic Jakarta *** Autism Clinic *** Children Behaviour Clinic *** Motoric & Sensory Processing Disorders Clinic *** NICU – Premature Follow up Clinic *** Lactation and Breastfeeding Clinic *** Swimming Spa Baby & Medicine Massage Therapy For Baby, Children and Teen ***

Clinical – Editor in Chief : Dr WIDODO JUDARWANTO, pediatrician email : judarwanto@gmail.com curriculum vitae Creating-hashtag-on-twitter: @WidoJudarwanto www.facebook.com/widodo.judarwanto Mobile Phone O8567805533 PIN BB 25AF7035 We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.
Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2013, GRoW UP CLINIC Information Education Network. All rights reserved

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s