Alergi Berak Darah Pada Bayi, Belum Tentu Disebabkan Alergi Susu sapi

Alergi Berak Darah Pada Bayi, Belum Tentu Disebabkan Alergi Susu sapi

Audi, bayi laki-laki usia 11 bulan  mengalami berak darah pertama kalinya. Berak darah yang terjadi pada Audi oleh dokter yang merawatnya dianggap disentri atau amuba dan harus diberikan antibiotika atau anti amuba. Meski telah diberi antibiotika dan anti amuba tetap saja keluhan tersebut hilang timbul, Beberapa dokter sering menyalahkan orangtua karena tidak menjaga kebesihan sehingga anaknya sering mengalami diare. Padahal waktu itu hanya minum ASI dan ibu berusaha seper bersih dalam merawat anak. Saat diperiksa dokter lainnya lagi langsung divonis alergi susu sapi. Orangtuanya sempat heran mengapa dianggap alergi susu sapi karena minum susu sapi sudah 11 bulan lamanya tidak mengalami gangguan apa-apa apalagi sebelumnya tidak pernah berak darah. Setelah berganti-ganti dokter yang lain lagi, terdapat salah seorang dokter tanpa memberikan antibiotika dan mengadviskan melakukan penanganan alergi dan hipersensitifitas makanan dengan menghindari sementara beberapa makanan yang diduga penyebab alergi makanan dan mencermati hilangnya gangguan infeksi virus ternyata tidak dalam waktu lama keluhan gangguan berak darahnya tidak timbul lagi meski sudah dicoba minum susu sapi biasa lagi. Ternyata Audi tidak mengalami gangguan berak darah dan gangguan saluran cerna lainnya, sehingga dapat dipastikan dia tidak mengalami alergi susu sapi.

Diagnosis alergi susu sapi selama ini seringkali berlebihan diberikan pada penderita alergi. Overdiagnosis ini sering terjadi meski oleh seorang dokter yang ahli. Hal ini terjadi karena sultnya memastikan penyebab alergi makanan karena ytes alergi seperti tes kulit belum bisa memastikan penyebab alergi makanan. Sehingga selama inu dokter hanya menduga penyebab alerginya.

Berak darah yang disebabkan karena alergi seringkali merupakan akumulasi gangguan alergi makanan disertai dipicu dan diperberat adanya infeksi virus saluran napas seperti badan hangat, demam, mual, muntah, batuk atau pilek. Saat terjadi alergi makanan biasanya keluhan yang timbul hanya ringan seperti sulit BAB, mgeden, bulat seperti kotoran kambing, warna gelap dan hijau. tetapi bila gangguan tersebut tidak dicermati dan tidak di[perbaiki saat bayi terkena infeksi virus flu, demam, batuk atau pilek maka gangguan pencernaan yang terjadi l;ebih hebat seperti timbul darah. Manifestasi seperti itulah biasanya bayi divonis berlebihan sebagai alergi susu sapi padahal saat dicoba susu sapi lagi bayi tidak mengalami keluhan apapun.

Identifikasi asal perdarahan saluran cerna

Gejala klinis Lokasi perdarahan
Laserasi esofagus/mukosa gaster (Mallory weiss syndrome)
Muntahan darah merah segar atau seperti kopi Lesi proksimal dari ligamen Treitz
Melena Lesi proksimal dari ligamen Treitz, usus kecilKehilangan darah berkisar 50-100 ml/hari
Darah segar bercampur tinja Lesi pada ileum atau colonPerdarahan masif upper gastrointestinaltract
Darah diluar tinja Lesi pada ampula rektum atau anus

Penyebab Lain Perdarahan Saluran Cerna

Bayi
Hematemesis Tertelan darah ibuPeptic esophagitis
Melena Ulkus duodenumDuplikasi ileumDivertikulum Meckel
Melena dengan nyeri, obstruksi, peritonitis, perforasi Necrotizing enterocolitisIntususepsiVolvulus
Hematochezia dengan diare, crampy abdominal pain Kolitis infeksiosaKolitis pseudomembranEnterokolitis Hirschprung
Hematochezia tanpa diare dan nyeri perut Fisura aniKolitis eosinofilik

Amati Tanda dan gejala gangguan saluran cerna yang lain karena alergi dan hipersensitif makanan (Gastrointestinal Hipersensitivity) yang menyertai penderita dengan gangguan berak darah pada bayi

  • Pada Bayi : GASTROOESEPHAGEAL REFLUKS ATAU GER, Sering MUNTAH/gumoh, kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Feses warna hijau,hitam dan berbau. Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis. Air liur berlebihan. Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering

Manifestasi klinis lain yang sering dikaitkan dengan penderita alergi pada bayi.

  • Kulit sensitif. Sering timbul bintik atau bisul kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut.Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Mata, telinga dan daerah sekitar rambut sering gatal, disertai pembesaran kelenjar di kepala belakang. Kotoran telinga berlebihan kadang sedikit berbau.
  • Lidah. Lidah sering timbul putih (seperti jamur). Bibir tampak kering atau bibir bagian tengah berwarna lebih gelap (biru).
  • Napas Berbunyi (Hipersekresi bronkus). Napas grok-grok, kadang disertai batuk sesekali terutama malam dan pagi hari siang hari hilang. Bayi seperti ini beresiko sering batuk atau bila batuk sering lama (>7hari) dan dahak berlebihan )
  • Sesak segera setelah lahir. Sesak bayi baru lahir saat usia 03 hari, biasanya akan membaik paling lama 7-10 hari. disertai kelenjar thimus membesar (TRDN (Transient respiratory ditress Syndrome) /TTNB). BILA BERAT SEPERTI PARU-PARU TIDAK MENGEMBANG (LIKE RDS). Bayi usia cukup bulan (9 bulan) secara teori tidak mungkin terjadi paru2 yang belum mengembang. Paru tidak mengembang hanya terjadi pada bayi usia kehamilan < 35 minggu) Bayi seperti ini menurut penelitian beresiko asthma (sering batuk/bila batuk sering dahak berlebihan )sebelum usia prasekolah. Keluhan ini sering dianggap infeksi paru atau terminum air ketuban.
  • Hidung Sensitif. Sering bersin, pilek, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi (Sehingga beresiko kepala “peyang”) karena hidung buntu, atau minum dominan hanya satu sisi bagian payudara. Karena hidung buntu dan bernapas dengan mulut waktu minum ASI sering tersedak
  • Mata Sensitif. Mata sering berair atau sering timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi atau kedua sisi.
  • Keringat Berlebihan. Sering berkeringat berlebihan, meski menggunakan AC keringat tetap banyak terutama di dahi
  • Berat Badan Berlebihan atau kurang. Karena minum yang berlebihan atau sering minta minum berakibat berat badan lebih dan kegemukan (umur <1tahun). Sebaliknya terjadi berat badan turun setelah usia 4-6 bulan, karena makan dan minum berkurang
  • Saluran kencing. Kencing warna merah atau oranye (orange) denagna sedikit bentukan kristal yang menempel di papok atau diapers . Hal ini sering dianggap inmfeksi saluran kencing, saat diperiksa urine seringkali normal bukan disebabkan karena darah.
  • Kepala, telapak tangan atau telapak kaki sering teraba sumer/hangat.
  • Gangguan Hormonal. Mempengaruhi gangguan hormonal berupa keputihan/keluar darah dari vagina, timbul jerawat warna putih. timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok, timbul banyak bintil kemerahan dengan cairan putih (eritema toksikum) atau papula warna putih
  • Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan. Pada bayi berusia di atas 6 bulan dengan keluhan sering mual, BAB ngeden atau sulit, BAB > 3 kali seringkali mengakibatkan kesulitan makan atau makan hanya sedikit yang mengakibatkan gangguan kenaikkan berat badan dan sering mengalami daya tahan tubuh menurun sejak usia 6 bulan. Pada usia sebelum 6 bulan kenaikkan pesat tetapi setelah usia 6 bulan kenaikkan relatif datar. Pada penderita hipersensitifitas non alergi (non atopi) biasa nya ghangguan berat badan dan sulit makan lebih tidak ringan dan timbul sejak usia sebelum 6 bulan tetapi setelah 6 bulan lebih buruk

PERILAKU YANG SERING MENYERTAI PENDERITA ALERGI PADA BAYI

  • GANGGUAN NEURO ANATOMIS : Mudah kaget bila ada suara yang mengganggu. Gerakan tangan, kaki dan bibir sering gemetar. Kaki sering dijulurkan lurus dan kaku. Breath Holding spell : bila menangis napas berhenti beberapa detik kadang disertai sikter bibir biru dan tangan kaku. Mata sering juling (strabismus). Kejang tanpa disertai ganggguan EEG (EEG normal)
  • GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN Usia < 1 bulan sudah bisa miring atau membalikkan badan. Usia < 6 bulan: mata/kepala bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak berlebihan, tidak bisa diselimuti (“dibedong”). Kepala sering digerakkan secara kaku ke belakang, sehingga posisi badan bayi “mlengkung” ke luar. Bila digendomg tidak senang dalam posisi tidur, tetapi lebih suka posisi berdiri.Usia > 6 bulan bila digendong sering minta turun atau sering bergerak/sering menggerakkan kepala dan badan atas ke belakang, memukul dan membentur benturkan kepala. Kadang timbul kepala sering bergoyang atau mengeleng-gelengkan kepala. Sering kebentur kepala atau jatuh dari tempat tidur.
  • GANGGUAN TIDUR (biasanya MALAM-PAGI) gelisah,bolak-balik ujung ke ujung; bila tidur posisi “nungging” atau tengkurap; berbicara, tertawa, berteriak dalam tidur; sulit tidur atau mata sering terbuka pada malam hari tetapi siang hari tidur terus; usia lebih 9 bulan malam sering terbangun atau tba-tiba duduk dan tidur lagi,
  • AGRESIF MENINGKAT, pada usia lebih 6 bulan sering memukul muka atau menarik rambut orang yang menggendong. Sering menarik puting susu ibu dengan gusi atau gigi, menggigit, menjilat tangan atau punggung orang yang menggendong. Sering menggigit puting susu ibu bagi bayi yang minum ASI, Setelah usia 4 bulan sering secara berlebihan memasukkan sesuatu ke mulut. Tampak anak sering memasukkan ke dua tangan atau kaki ke dalam mulut. Tampak gampang seperti gemes atau menggeram
  • GANGGUAN KONSENTRASI : cepat bosan terhadap sesuatu aktifitas bermain, memainkan mainan, bila diberi cerita bergambar sering tidak bisa lama memperhatikan. Bila minum susu sering terhenti dan teralih perhatiannya dengan sesuatu yang menarik tetapi hanya sebentar
  • EMOSI MENINGKAT, sering menangis, berteriak dan bila minta minum susu sering terburu-buru tidak sabaran. Sering berteriak dibandingkan mengiceh terutama saat usia 6 bulan
  • GANGGUAN MOTORIK KASAR, GANGGUAN KESEIMBANGAN DAN KOORDINASI : Pada POLA PERKEMBANGAN NORMAL adalah BOLAK-BALIK, DUDUK, MERANGKAK, BERDIRI DAN BERJALAN sesuai usia. Pada gangguan keterlambatan motorik biasanya bolak balik pada usia lebih 5 bulan, usia 6 – 8 bulan tidak duduk dan merangkak, setelah usia 8 bulan langsung berdiri dan berjalan.
  • GANGGUAN ORAL MOTOR: KETERLAMBATAN BICARA: Kemampuan bicara atau ngoceh-ngoceh hilang dari yang sebelumnya bisa. Bila tidak ada gangguan kontak mata, gangguan pendengaran, dan gangguan intelektual biasanya usia lebih 2 tahun membaik. GANGGUAN MENGUNYAH DAN MENELAN: Gangguan makan makanan padat, biasanya bayi pilih-pilih makanan hanya bisa makanan cair dan menolak makanan yang berserat. Pada usia di atas 9 bulan yang seharusnya dicoba makanan tanpa disaring tidak bisa harus di blender terus sampai usia di atas 2 tahun.
  • IMPULSIF : banyak tersenyum dan tertawa berlebihan, lebih dominan berteriak daripada mengoceh.
  • Memperberat ADHD dab Autis. Jangka panjang akan memperberat gangguan perilaku tertentu bila anak mengalami bakat genetik seperti ADHD (hiperaktif) dan AUTIS (hiperaktif, keterlambatan bicara, gangguan sosialisasi). Tetapi alergi bukan penyebab Autis tetapi hanya memperberat. Penderita alergi dengan otak yang normal atau tidak punya bakat Autis tidak akan pernah menjadi Autis.
Gejala alergi pada bayi selain makanan justru paling sering seringkali diperberat saat sakit atau terjadi oleh infeksi berupa infeksi virus, bakteri atau infeksi lainnya. Paling sering di antaranya adalah infeksi virus. Pada bayi tanda dan gejala infeksi virus ringan ini lebih sulit dikenali. Biasanya hanya berupa badan sumer teraba hangat hanya di kepala, telapak tangan dan badan bila diukur suhu normal. Biasanya disertai bersin, batuk sekali-sekali dan pada anak bayi tertentu nafas bunyi grok-grok. Flu pada bayi jarang sekali menimbulkan hidung meler biasanya hanya basah sedikit di sekitar hidung atau batuk sekali-sekali karena refleks batuk pada bayi basih belum sempurna.Bahkan sebagian dokter menilai gejala infeksi virus tersebut dianggap sebagai gejala alergi.Pada keadaan sakit seperti itu biasanya ada kontak yang sakit flu, demam, batuk atau infeksi virus ringan lainnya di dalam di rumah. Sayangnya orangtua juga sering tidak menyadari bahwa selama ini sering terkena infeksi virus yang gejalanya tidak khas tersebut. Gejala infeksi virus yang ringan yang dialami oleh penderita dewasa berupa badan ngilu, terasa pegal,nyeri tenggorokan atau kadang disertai sakit kepala. Gejala ringan, tidak khas dan cepat membaik ini sering dianggap “gejala mau flu tidak jadi”, masuk angin, kurang tidur, panas dalam atau kecapekan

KOMPLIKASI YANG SERING TERJADI

  • Sering mengalami Gizi Ganda : satu kelompok sulit makan terdapat kelompok lain makan berlebihan sehingga beresiko kegemukan
  • GANGGUAN SULIT MAKAN : nafsu makan menurun bahkan kadang tidak mau makan sama sekali, gangguan mengunyah menelan, terlambat makan nasi tim saring, bila ada makanan yang berserat sedikit tidak mau atau dikeluarkan dari mulut. Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi. Pada kasus seperti ini biasanya berat badan mulai tidak baik saat usia 4-6 bulan saat diberi susu tambahan atau makanan tambahan baru.
  • MAKAN BERLEBIHAN KEGEMUKAN atau OBESITAS, biasanya sering terjadi pada bayi yang pada malam hari sering minta minum susu karena rewel, selama ini hal tersebut dianggap kehausan atau minum susu padahal ada yang tidak nyaman (biasanya di saluran cerna, coba perhatikan gejala gangguan saluran cerna pada bayi alergi)
  • Daya tahan menurun sering sakit demam, batuk, pilek setiap bulan bahkan sebulan 2 kali. (normal sakit seharusnya 2-3 bulan sekali). Pada bayi pemberian ASI ekslusif seharusnya sebelum usia 6 bulan tidak akan mengalami sakit batuk, pilek atau diare tetap[i pada kasus ini beberapa kali mengalaminya. Biasanya sering terjadi infeksi semakin lebih mudah tertular setelah usia 6 bulan.
  • Mudah mengalami INFEKSI SALURAN KENCING. Kulit di sekitar kelamin sering kemerahan
  • SERING TERJADI OVERDIAGNOSIS TBC (MINUM OBAT JANGKA PANJANG PADAHAL BELUM TENTU MENDERITA TBC / ”FLEK ”) KARENA GEJALA ALERGI MIRIP PENYAKIT TBC. BATUK LAMA BUKAN GEJALA TBC PADA ANAKBILA DIAGNOSIS TBC MERAGUKAN SEBAIKNYA ”SECOND OPINION” DENGAN DOKTER LAINNYA

Bila tanda dan gejala gangguan Berak Darah berulang pada anak tersebut disertai beberapa tanda, gejala atau komplikasi alergi dan hipersensitifitas makanan (terutama gangguan saluran cerna) tersebut maka sangat mungkin Gangguan Berak Darah berulang itu disebabkan karena alergi atau hipersensitifitas makanan.

Berak darah, Alergi dan Infeksi Virus

Penyebab lain yang mwemicu atau memperberat Gangguan Berak Darah berulang Pada Anak adalah saat anak terkena infeksi saluran napas atas seperti nafas bunyi grok-grok (huipersekresi bronkus), badan hanya hangat teraba di tangan atau kepala tetapi saat diukur suhu normal, atau muntah dan infeksi lainnya yang timbul di luar saluran cerna

Berak darah pada penderita alergi dan hipersensitif makanan biasanya timbul dipicu oleh infeksi di luar saluran cerna seperti infeksi saluran napas demam, bersin, batuk, napsa grok-grok. Infeksi ringan yang biasanya disebabkan karena infeks virus ini seringkali diabaikan atau tidal terdeteksi oleh para klinisi karena gangguannya sangat ringan. Hal inilah yang sering salah diagnosis atau overdiagnosis berak darah dianggap karena alergi susu sapi padahal sebelumnya minum susu sapi sudah 2-6 bulan tidak mengalami gangguan apapun. Alasan klinisi tentang gejala yang timbul baru terjadi kemudian itu dianggap karena sensitisasi butuh waktu juga tidak benar. Karena, untuk sensitisasi tidak perlu waktu yang demikian lama, dan biasanya bayi sudah tersensitisasi susu sapi sejak usia dalam kehamilan. Banyak kasus pada penderita tersebut setelah dilakukan provokasi atau dicoba susu sapi ternyata memang tidak mengalami gangguan sedikitpun.

TIPS MUDAH MEMBEDAKAN BERAK DARAH KARENA INFEKSI SALURAN CERNA ATAU KARENAHIPERSENSITIF SALURAN CERNA (YANG DIPICU INFEKSI DI LUAR SALURAN CERNA)

  • INFEKSI SALURAN CERNA (DISENTRI, AMUBA) : Saat hari pertama frekuensi darah dalam feses sedikit selanjutnya hari ke dua dan ke tiga sering dan bertambah banyak. Gangguan ini perlu antibiotika
  • Hipersensitif saluran cerna (dipicu infeksi di luar saluran cerna seperti demam, flu, batuk, pilek) : bila berak darah hanya timbul saat hari pertama dan saat hari ke dua dan ke tiga semakin berkurang dan membaik tanpa pemberian antibiotika. Gangguan ini tidak perlu antibiotika

Pemeriksaan Feses

  • Pada pemeriksaan feses biasanya didapatkan darah samar atau eritrosit meningkat
  • Seringkali didapatkan jamur, fungi, yeast yang juga meningkat
  • Kadang didapatkan bentukan seperti kista amuba yang kadang belum bisa dipastikan karena benar infeksi amuba. Hal inilah yang sering mengecoh bahwa gangguan tersebut disebabkan karena amuba.

Memastikan Diagnosis

  • Diagnosis Gangguan Berak Darah Pada bayi yang disebabkan alergi atau hipersensitif makanan dibuat bukan dengan tes alergi tetapi berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan eliminasi dan provokasi.
  • Untuk melakukan tes tersebut harus dipastikan keluhan ifeksi saluran napas atau infeksi virus lainnya hilang. Infeksi saluran napas atas seperti nafas bunyi grok-grok (huipersekresi bronkus), badan hanya hangat teraba di tangan atau kepala tetapi saat diukur suhu normal, batuk, pilek atau muntah dan infeksi lainnya yang timbul di luar saluran cerna
  • Untuk memastikan makanan penyebab alergi dan hipersensitifitas makanan harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit.
  • Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Children Allergy Clinic Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”. Bila setelah dilakukan eliminasi beberapa penyebab alergi makanan selama 3 minggu didapatkan perbaikan dalam gangguan muntah tersebut, maka dapat dipastikan penyebabnya adalah alergi makanan.
  • Pemeriksaan standar yang dipakai oleh para ahli alergi untuk mengetahui penyebab alergi adalah dengan tes kulit. Tes kulit ini bisa terdari tes gores, tes tusuk atau tes suntik. PEMERIKSAAN INI HANYA MEMASTIKAN ADANYA ALERGI ATAU TIDAK, BUKAN UNTUK MEMASTIKAN PENYEBAB ALERGI. Pemeriksaan ini mempunyai sensitifitas yang cukup baik, tetapi sayangnya spesifitasnya rendah. Sehingga seringkali terdapat false negatif, artinya hasil negatif belum tentu bukan penyebab alergi. Karena hal inilah maka sebaiknya tidak membolehkan makan makanan penyebab alergi hanya berdasarkan tes kulit ini.
  • Dalam waktu terakhir ini sering dipakai alat diagnosis yang masih sangat kontroversial atau ”unproven diagnosis”. Terdapat berbagai pemeriksaan dan tes untuk mengetahui penyebab alergi dengan akurasi yang sangat bervariasi. Secara ilmiah pemeriksaan ini masih tidak terbukti baik sebagai alat diagnosis. Pada umumnya pemeriksaan tersebut mempunyai spesifitas dan sensitifitas yang sangat rendah. Bahkan beberapa organisasi profesi alergi dunia tidak merekomendasikan penggunaan alat tersebut. Yang menjadi perhatian oraganisasi profesi tersebut bukan hanya karena masalah mahalnya harga alat diagnostik tersebut tetapi ternyata juga sering menyesatkan penderita alergi yang sering memperberat permasalahan alergi yang ada
  • Namun pemeriksaan ini masih banyak dipakai oleh praktisi kesehatan atau dokter. Di bidang kedokteran pemeriksaan tersebut belum terbukti secara klinis sebagai alat diagnosis karena sensitifitas dan spesifitasnya tidak terlalu baik. Beberapa pemeriksaan diagnosis yang kontroversial tersebut adalah Applied Kinesiology, VEGA Testing (Electrodermal Test, BIORESONANSI), Hair Analysis Testing in Allergy, Auriculo-cardiac reflex, Provocation-Neutralisation Tests, Nampudripad’s Allergy Elimination Technique (NAET), Beware of anecdotal and unsubstantiated allergy tests.

PENATALAKSANAAN

  • Penanganan Gangguan Berak Darah Pada Bayi karena alergi dan hipersensitifitas makanan haruslah dilakukan secara benar, paripurna dan berkesinambungan.
  • Pemberian obat terus menerus bukanlah jalan terbaik dalam penanganan gangguan tersebut tetapi yang paling ideal adalah menghindari penyebab yang bisa menimbulkan keluhan alergi tersebut.
  • Pemicu tersering gangguan tersebut sering selama ini dianggap karena alergi susu sapi tetapi justru paling sering adalah infeksi virus atau flu ringan pada bayi yang sering tidak terdeteksi dan diabaikan oleh dokter sekalipun. Bila hal itu penyebabnya maka setelah 5 hari akan membaik. Tetapi akan timbul lagi bila terkena infeksi virus lagi bila di rumah ada yang sakit lagi
  • Bila kolik pada bayi bila disertai manifestasi alergi lainnya sangat mungkin alergi makanan berperanan sebagai penyebabnya. Saat ibu memberikan ASI maka makanan yang dikonsumsi ibu sangat berpengaruh.
  • Penanganan terbaik pada penderita alergi makanan dengan gangguan  kolik  adalah adalah dengan menghindari makanan penyebabnya. Pemberian obat anti alergi dan obat untuk saluran cerna penghilang rasa sakit dalam jangka panjang adalah bukti kegagalan dalam mengidentifikasi makanan penyebab alergi.
  • Ikuti langkah-langkah dalam Tes Alergi Makanan : Challenge Tes – Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka
  • Mengenali secara cermat gejala alergi dan mengidentifikasi secara tepat penyebabnya, maka gejala alergi dan gangguan perilaku yang menyertai dapat dihindari. Deteksi gejala alergi dan gangguan tidur pada anak harus dilakukan sejak dini. Sehingga pengaruh alergi makanan terhadap gangguan tidur atau gangguan perilaku lainnya dapat dicegah atau diminimalkan.

 

Challenge Tes (Eliminasi Provokasi Makanan-Open Food Elimination Provocation) : Diagnosis Pasti Alergi Makanan dan Hipersensitifitas Makanan

Intervensi Diet Sebagai Terapi dan Diagnosis Berbagai Gangguan Alergi Pada Bayi

  • Penghindaran makanan penyebab alergi pada bayi harus dicermati secara benar, karena beresiko untuk terjadi gangguan gizi. Sehingga orang tua penderita harus diberitahu tentang makanan pengganti yang tak kalah kandungan gizinya dibandingklan dengan makanan penyebab alergi. Penghindaran terhadap susu sapi dapat diganti dengan susu soya, formula hidrolisat kasein atau hidrolisat whey., meskipun anak alergi terhadap susu sapi 30% diantaranya alergi terhadap susu soya. Sayur dapat dipakai sebagai pengganti buah. Tahu, tempe, daging sapi atau daging kambing dapat dipakai sebagai pengganti telur, ayam atau ikan. Pemberian makanan jadi atau di rumah makan harus dibiasakan mengetahui kandungan isi makanan atau membaca label makanan.
  • Obat-obatan simtomatis seperti anti diare, anti histamine (AH1 dan AH2), ketotifen, ketotofen, kortikosteroid, serta inhibitor sintesaseprostaglandin hanya dapat mengurangi gejala sementara bahkan dalam keadaan tertentu seringkali tidak bermanfaat, umumnya mempunyai efisiensi rendah. Sedangkan penggunaan imunoterapi dan natrium kromogilat peroral masih menjadi kontroversi hingga sekarang.

Obat

  • Pemberian obat antibiotika, anti disentri dan anti amuba tidak banyak bermanfaat dan tidak diindikasikan pada Gangguan Berak Darah berulang karena alergi dan hipersensitifitas makanan
  • Pengobatan Gangguan Berak Darah berulang pada bayi karena alergi dan hipersensitifitas makanan yang baik adalah dengan menanggulangi penyebabnya. Bila gangguan sulit makan yang dialami disebabkan karena gangguan alergi dan hipersensitifitas makanan, penanganan terbaik adalah menunda atau menghindari makanan sebagai penyebab tersebut.
  • Waspadai overdiagnosis Alergi Susu Sapi atau diagnosis yang tidak benar tentang alergi susu sapi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s